Home / Berita Media / Berita Nasional / Klinik Berbasis Masyarakat Bantu Tekan Angka Lost to Follow Up pada ODHA

Klinik Berbasis Masyarakat Bantu Tekan Angka Lost to Follow Up pada ODHA

Jakarta, Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) harus mengonsumsi Antiretroviral (ARV) supaya jumlah virus di tubuhnya bisa ditekan seminimal mungkin. Sayangnya, masih terdapat kasus lost to follow up di mana ODHA berhenti memakai ARV.

Nah, untuk menekan kejadian lost to follow up, pendampingan salah satunya seperti yang diberikan klinik berbasis komunitas juga memegang peranan penting. Contohnya saja seperti yang terjadi di Klinik Kesehatan Dasar KIOS Atmajaya.

Manajer program KIOS Atmajaya, Husein, menyebutkan dalam kurun tahun 2015, dari 105 total pasien, sebanyak 53 pasien dirujuk, sedangkan pasien yang tetap mendapat akses ARV sebanyak 46, dan pasien meninggal 6 orang. Menurut Husein, jumlah klien yang loss to follow up kecil.

“Tidak sampai lebih dari 10 persen karena memang kita kan klinik dengan berbasis komunitas, maka terus ada pendampingan. Ketika ada kasus, sampai berhari-hari tidak ambil obat, selalu kita ‘kejar’ ke rumahnya, kita kasih ARV-nya akhirnya dia minum lagi,” tutur Husein di Bumbu Desa Resto, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (24/11/2015).

Baca juga: Ini Pentingnya Pendampingan Bagi Ibu Hamil yang Mengonsumsi ARV

Bahkan, ketika ada kasus di mana klien yang didampingi berurusan dengan polisi, diusahakan ARV bisa masuk ke bui supaya yang bersangkutan tidak putus memakai ARV. Begitu pun ketika ada kondisi ODHA yang sudah cukup parah, maka dilakukan program ‘jemput bola’ agar ODHA mau berobat ke klinik atau dirujuk ke RS.

Sayangnya, menurut pengalaman Husein, ada beberapa orang yang enggan diajak berobat karena menganggap kondisinya bisa bermanfaat untuknya. Misalkan, untuk mempermudah mencari nafkah. Meski KIOS Atmajaya awalnya hanya fokus pada pengguna narkoba suntik, tapi kini layanan seperti pemeriksaan kesehatan dasar, rawat inap, VCT, ARV, psikiatri, konseling, kelompok dukungan sebaya, dan kunjungan rumah bisa diperoleh masyarakat lainnya.

“Hanya saja masalahnya belum ada legalitas hukum untuk klinik sehingga sulit untuk mengembangkan klinik. Belum lagi terbatasnya sumber daya manusa dan tidak tersedianya pengobatan lanjutan. Ditambah kita masih sangat tergantung pendanaan donorn” kata Husein.

Sumber: http://health.detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *