Home / Liputan Kegiatan / Pertemuan Stakeholder Program SUFA Hasilkan Rekomendasi

Pertemuan Stakeholder Program SUFA Hasilkan Rekomendasi

IMG_0629Pertemuan Kios Atma Jaya dengan stakeholder yang digelar pada Senin (8/6) di Ruangan walikota Jakarta barat telah menghasilkan beberapa rekomendasi guna memuluskan program Percepatan Anti Retroviral (ARV) yang diajukan Kios Atma Jaya ke pihak Indonesia Partnership Fund (IPF) melalui Komisi Penanggulangan AIDS Nasional selaku penanggung jawab program.

Poin-poin yang diusulkan oleh pihak Suku Dinas kesehatan Jakarta Barat diantaranya mereview kembali proposal yang diajukan Kios Atma Jaya, tidak diperkenankan Layanan Kios Atma Jaya memberikan resep obat ARV kepada Klien dan menunjukan hasil kesepakatan kerja sama (MoU) antara Kios Atma Jaya dan PKM Grogol Petamburan terkait upaya rujukan klien. Selain itu Kios juga menuliskan surat pernyataan Kios kepada sudinkes terkait tidak melakukan praktik medis.

Kegiatan ini merupakan sebuah bentuk sosialisasi program Kios terkait percepatan SUFA dengan sebuah harapan Sudinkes Jakarta Barat mengeluarkan sebuah Rekomendasi untuk program yang dijalankan Kios yang selama ini prosesnya terlalu rumit.

Dalam paparan Kios yagn diwakili Husen Basalamah, Program Manager Kios Atma Jaya menjelaskan bahwa core dari program Kios sejak awal adalah Penjangkauan dan pendampingan, dimana di dalamnya memiliki program Layanan Alat Suntik Steril (LASS) dan rujukan ke layanan termasuk Kios menjadi satelite RSPI untuk ARV. Lalu kegiatan lainnya adalah pemberdayaan komunitas melalui kegiatan kelompok bantu diri yang dibentuk oleh Kios.

“Selama lebih dari 13 tahun, Program harm reduction yang dijalankan Kios telah dikatakan berhasil dengan melihat adanya perubahan prilaku penasun dalam hal ini prilaku menyuntik. Hasil survey pada 2014 menunjukan bahwa 94% penasun tidak berpilaku sharing jarum. Jadi itu cukup memberi sinyal bahwa program HR yang dilakukan kios cukup berhasil”. Terang Husen.

Ketika melihat casecade bahwa Kios telah melakukan VCT lebih dari 900 orang kepada Penasun pada 2013-2014, maka yang positif adalah 400-an orang dan yang masuk ARV hanya ada 22 orang. Maka menjadi pertanyaan mengapa hanya ada 22 orang? Beberapa alasannya bahwa Kondisi adiksi dari ODHA penasun sulit untuk bertahan dan patuh dengan terapi, kemudian penasun juga lebih suka dengan layanan mobile dan mereka sulit mempertahankan adherence.

Kini strategi yang dilakukan Kios dalam program perceaptan ARV antara lain melakukan Pemetaan Ulang kepada ODHA yang belum masuk ART dimana Kios hanya menemukan kembali mereka yang positif untuk masuk memulai ARV, meningkatkan pengetahuan terkait manfaat ARV sehingga mereka bisa masuk untuk memulai ART, menyediakan konseling perubahan prilaku dan mendukung perubahan prilkau dengan layanan-layanan penguat (rujukan) ke PKM dan Ruma Sakit rujukan.

Sementara itu dokter Ilmi mewakili bagian Fayankes memberikan pandangan terkait praktik yang dilakukan doker di layanan Kios Atma Jaya. “Pemberian layanan ARV artinya ada upaya pemberian layanan kesehatan perorangan dari sebuah individu atau lembaga. Artinya bahwa Kios telah melakukan upaya-upaya ini. Jadi kerjasama dengan PKM dan Kios melalui MoU itu bisa dikatakan legal. Kerja sama itu mengisyaratkan bahwa PKM Grogol Petamburan atau PKM setempat mengetahui seluruh kegiatan dan praktik-praktik yang ada di Kios. Jadi Kios di sini disupervisi oleh PKM setempat karena berada di wilayahnya. PKM Gropet dan kami juga harus tahu apa yang dilakukan oleh Kios dan bagaimana isi MoU antara Kios dan PKM” Demikian disampaikan dokter muda tersebut.

Dari sudut pandang sumber daya Kesehatan (SDK) doker yang mewakili seksi SDK menjelaskan setiap upaya pemberian layanan kesehatan disana juga ada sebuah profesi yang melaksanakan kegiatan tersebut, entah itu dokter, perawat, bidan atau apapun. Kemudian ada Sarana (tempat, ruangan, alat-alat praktik, obat dan sebagainya).

Jadi sebenarnya bahwa dalam sebuah klinik, maximal dokter praktiknya adalah 3 dokter dimana mereka semua harus memiliki SIP. Kalau dia sudah praktik di wilayah dia tinggal saya yakin mereka sudah punya SIP. Tetapi kalau dia praktik lagi ditempat lain diluar wilayahnya mereka harus memiliki SIP. Terkait dengan itu untuk layanan obat, kami yakin dokter yang ada di Kios sudah melaksanakan keprofesiannya terbukti telah memberikan oat ARV kepada klien. Demikian pandangan dari bidang sumber daya kesehatan suku dinas kesehatan Jakarta Barat.

Hadir dalam pertemuan tersebut adalah permwakilan dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional selaku penanggung jawab umum program, WHO, KPA Wilayah Jakarta Barat dan empat Puskesmas yang memiliki Layanan Komprehensif dan Berkelanjutan (LKB) se Jakarta Barat. *John

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *